Style Sampler

Layout Style

Patterns for Boxed Mode

Backgrounds for Boxed Mode

Merti Kampung Gambiran Yogyakarta

Merti Kampung Gambiran Yogyakarta

Yogyakarta, JOGJA TV|  Untuk menghidupkan kembali tradisi merti kampung yang dulu pernah ada di Kampung Gambiran, Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, warga Kampung Gambiran menggelar merti kampung dengan menghadirkan enam gunungan yang merupakan persembahan dari lima RW yang ada di kampung Gambiran. Upacara adat yang dikemas secara sederhana ini ternyata masih menarik perhatian warga meskipun mereka tinggal di wilayah perkotaan.

 

SEGMEN 1.mpg_000079186

SEGMEN 2.mpg_000246275

SEGMEN 2.mpg_000213177

SEGMEN 2.mpg_000312130

Sekitar puluhan tahun yang lalu sebagian besar wilayah Gambiran, Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta merupakan lahan pertanian yang subur tanahnya. Hamparan padi dan tanaman palawija menjadi sumber matapencaharian warga setempat. Masyarakatnya pun hidup dalam kebersamaan yang kuat. Setelah masa panen tiba warga Gambiran kala itu rutin menggelar upacara majemukan atau merti desa sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

SEGMEN 2.mpg_000304446

SEGMEN 3.mpg_000482688

SEGMEN 2.mpg_000351593

Namun seiring perkembangan jaman lahan-lahan pertanian di Kampung Gambiran menyusut dan beralih fungsi menjadi tempat pemukiman warga. Menyusutnya lahan pertanian praktis menjadikan tradisi Majemukan di Kampung Gambiran menghilang. Jalinan persaudaraan di antara warga Gambiran juga agak renggang terutama ketika sistim Rukun Kampung (RK) berubah menjadi Rukun Warga (RW).

SEGMEN 2.mpg_000374614

SEGMEN 3.mpg_000192857

Untuk mempererat kembali tali persaudaraan diantara warga Gambiran yang dulu sangat rukun maka di tahun 2017 ini warga setempat menghidupan kembali tradisi Merti Kampung Gambiran. “Tujuannya untuk mempererat kembali tali persaudaraan di antara warga Gambiran, karena dulu waktu RK kita bagus sekali tetapi setelah RW kan pecah. Jadi Merti Kampung itu melanjutkan mempererat tali persaudaraan di antara warga Gambiran,” kata Panitia Merti Kampung Gambiran, Susilo Edi.

SEGMEN 1.mpg_000170696

Merti Kampung Gambiran dikemas dalam bentuk kirab budaya. Rute kirab dimulai dari Taman Legawong RW 11 dan berakhir di halaman Masjid Purwo HS. Lima RW yang ada di Kampung Gambiran turut ambil bagian dalam kirab budaya ini. Masing-masing RW mempersembahkan gunungan yang menyimbolkan potensi warga setempat. Tidak hanya warga sajayang menyajikan gunungan namun dalam event itu panitia juga menyajikan satu gunungan, sehingga total gunungan yang disajikan ada enam.

SEGMEN 2.mpg_000319424

SEGMEN 2.mpg_000489644

SEGMEN 3.mpg_000369308

SEGMEN 2.mpg_000276100

Kirab budaya Merti Kampung Gambiran berkeliling menyusuri lima RW yang ada di Kampung Gambiran sebagai wujud napak tilas. Selain mengarak gunungan kirab tersebut juga menampilkan kesenian untuk menghibur warga yang menyaksikan jalannya kirab.

SEGMEN 1.mpg_000210460

SEGMEN 3.mpg_000127172

SEGMEN 2.mpg_000498064

SEGMEN 2.mpg_000481281

Iring-iringan kirab antaralain menampilkan bregodo Juru Kinthing yang ditampilkan oleh RW 10. Ki Juru Kinthing merupakan pepunden cikal bakal Kampung Gambiran. Menurut penuturan dari panitia acara, Susilo Edi, dahulu pada masa Kerajaan Mataram Islam sekitar abad XVI Juru Kinthing berperan sebagai senopati perang yang mampu menguasai Pulau Jawa. Selain itu, Ki juru Kinthing juga sangat berjasa sekali terhadap Kampung Gambiran karena beliau adalah orang yang pertama kali tinggal di wilayah Gambiran. “empat ratus tahun yang lalu di sini masih alas Mentaok beliau sudah tinggal disini, sehingga kita wujud syukur pada dia (Juru Kinthing)”, kata Susilo Edi.

SEGMEN 2.mpg_000236986

SEGMEN 2.mpg_000594518

Nama Gambiran sendiri menurut sejarahnya ada dua versi. Versi pertama Gambiran berasal dari gumbira. Dahulu ketika Ki Juru Kinthing berperang untuk menaklukkan wilayah Madura dan Sumenep beliau menang sehingga ketika pulang bersuka ria dan gembira. Sebagai bentuk wujud syukur dan rasa gembira kampung tempat tinggalnya kemudian dinamakan Gambiran.

Versi lainnya menyebutkan bahwa Gambiran sudah ada sejak jaman Mataram Hindu. Di wilayah yang saat ini bernama Gambiran itu dahulu kala di tempat tersebut banyak tumbuh pohon gambir. “Di sini dulu terkenal alas gambir waktu Kerajaan Mataram Hindu,” kata Susilo Edi. Banyaknya pohon gambir yang tumbuh di situ menjadikan kampung itu dinamakan Gambiran.

Dalam kirab selain menampilkan bergodo Juru Kinthing juga ada bergodo lainnya seperti bregodo lombok abang, bergodo lombok ireng, bergodo bugis, bergodo edan-edanan dan sebagainya. Setiap RW menampilkan bergodo sendiri-sendiri.

SEGMEN 2.mpg_000048093

SEGMEN 2.mpg_000257360

SEGMEN 3.mpg_000044357

SEGMEN 1.mpg_000088984

SEGMEN 2.mpg_000425952

Di sepanjang rute yang dilalui kirab warga kampung tampak antusias menyaksikannya. Mereka terasa terhibur dengan kirab budaya yang rutin digelar setahun sekali sejak tahun 2012 ini. Meskipun Kampung Gambiran telah bertransformasi menjadi kampung yang maju dan pesat namun warga tak ingin meninggalkan budaya merti kampung yang merupakan warisan dari nenek moyang. Inilah wujud nguri-nguri budaya yang perlu dipupuk terus agar tidak tergerus oleh kemajuan jaman.

SEGMEN 2.mpg_000451774

SEGMEN 3.mpg_000117967

SEGMEN 3.mpg_000054960

SEGMEN 2.mpg_000341102

SEGMEN 3.mpg_000490816

Seusai kirabwarga kemudian menggelar kenduri ageng. Dalam kenduri ini setiap RW menyajikan tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Kenduri ageng merupakan doa bersama yang dipimpin oleh Rois setempat. Lantunan doa  memohon keselamatan serta memohon kehidupan yang lebih baik terucap dari bibir warga. Makna dari kenduri ageng adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar Kampung Gambiran dijauhkan dari malapetaka dan marabahaya. Selain itu, agar Gambiran bisa gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem kerta raharja.

SEGMEN 3.mpg_000302202

SEGMEN 3.mpg_000240592

SEGMEN 3.mpg_000309561

SEGMEN 3.mpg_000339939

Usai berdoa warga kemudian makan bersama atau kembul bujana. Mereka tampak menikmati aneka makanan yang disajikan oleh warga. Makan bersama juga bisa menjadi wahana untuk saling bertegur sapa dan berbagi cerita.

SEGMEN 3.mpg_000290320

Setelah kenduri ageng dan makan bersama warga kemudian bersiap di dekat gunungan untuk mulai berebut gunungan. Mereka rela berdesak-desakan agar bisa mengambil bagian dari gunungan. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa terlihat antusias mengikuti rebutan gunungan. Inilah moment yang ditunggu-tunggu warga setiap kali digelar merti kampung Gambiran.

SEGMEN 3.mpg_000396572

SEGMEN 3.mpg_000401287

Rangkaian Merti Kampung Gambiran ditutup dengan pagelaran wayang kulit pada malam harinya dengan lakon Petruk dadi ratu oleh dalang Ki Seno Nugroho.

SEGMEN 3.mpg_000227941

Merti Kampung Gambiran penting untuk terus dilestarikan hingga anak cucu. Kegiatan budaya seperti ini bisa menjadi media efektif untuk mempererat kerukunan antar warga sehingga akan tercipta kehidupan yang tentram, damai dan sejahtera. (Rum) Sumber: Adiluhung, selasa 03/10/2017)

Tags

Category

Share this with friends

Comments are closed.

Baca Juga:close