Style Sampler

Layout Style

Patterns for Boxed Mode

Backgrounds for Boxed Mode

Festival Budaya Kotagede 2017

Sep

13

Sleman, JOGJA TV|  Kotagede memiliki sejarah  panjang sebagai cikal bakal Kerajaan Mataram Islam sejak tahun 1588. Dari Kotagede tersebut pusat kerajaan Mataram Islam kemudian pindah ke Kerto, Plered, Kartasura hingga akhirnya melahirkan Kasunan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari aspek sejarah yang dimiliki, Kotagede kemudian ditetapkan sebagai  satu kawasan Cagar Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta.  Sedangkan kawasan Cagar Budaya lainnya meliputi Kraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Malioboro, Kotabaru dan Imogiri.  Untuk mengenalkan sejarah Kotagede dan juga potensi ekonomi yang ada di Kotagede, masyarakat setempat bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY akan menggelar Festival Budaya Kotagede, mulai 16-24 September 2017.

Budayawan Penggerak Masyarakat Kotagede, Achmad Charris Zubair mengatakan Festival Budaya Kotagede menjadi momentum penting untuk mengenalkan potensi Kotagede baik dari sisi sejarah maupun kekuatan ekonominya, seperti kerajinan, kuliner, arsitektur dan lingkungan. Di sisi lain, event tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat Kotagede sangat dinamis sekaligus aman. Event kesenian semacam ini sudah diselenggarakan sejak tahun 1999 hingga tahun 2017.

CJ FestivalKotagede, 11 September 2017.mpg_001761760

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono menyambut baik digelarnya Festival Budaya Kotagede yang diinisiasi oleh masyarakat Kotagede. Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan DIY memberikan dukungan mulai dari soal regulasi hingga finansial. Kawasan Kotagede dianggap menarik karena merupakan satu-satunya daerah di DIY dan di tingkat nasional yang memiliki Badan Pengelola sendiri. Dinas Kebudayaan DIY mengusulkan supaya Festival Budaya Kotagede suatu saat bisa naik levelnya menjadi Festival Budaya Nusantara. Menurut Umar Priyono, pemikiran ini kemungkinan besar bisa terwujud karena Kotagede kaya tokoh, seniman dan budayawan. “Kotagede kaya tokoh, seniman, budayawan, saya kira menjadi hal yang sangat mungkin kalau Festival Budaya Kotagede diangkat ke level yang lebih besar,” paparnya.

CJ FestivalKotagede, 11 September 2017.mpg_000930040

Sekretaris Panitia acara, Dadik Rahmanto mengatakan Festival Budaya Kotagede akan digelar di 11 titik. Pembukaan festival Budaya Kotagede akan digelar tanggal 16 september 2017. Dalam pembukaan tersebut  akan digelar kirab budaya bertajuk “Kejayaan Mataram” serial Pisowanan Agung Ki Ageng Mangir. Kirab dimulai pukul 14.30 WIB dan akan mengambil start di Jalan Jagalan, tepatnya di depan kantor sekretariat Badan Pengelola Kawasan Cagar Budaya dan finish di Kantor Kementrian Hukum&HAM.

CJ FestivalKotagede, 11 September 2017.mpg_003296240

Setelah menyaksikan kirab masyarakat bisa langsung menuju ke Balai Kanjengan yang berada di Kelurahan Prenggan Kotagede. Di situ, masyarakat bisa melihat pameran aneka kerajinan dan kuliner khas Kotagede.

Selain itu, Festival Budaya Kotagede juga akan dimeriahkan dengan pentas seni yang menjadi potensi masyarakat di tiga kelurahan dan dua desa di Kotagede. Pentas seni di Kelurahan Jagalan akan digelar di Bangsal Dondongan, dekat komplek makam raja-raja mataram. Sedangkan masyarakat Kelurahan Prenggan akan menggelar pentas seni di pojok pasar Kotagede, Babon Anim. Sementara itu, pentas seni di Kelurahan Purbayan akan dipusatkan di depan monument jumenengan Hamengku Buwono IX. Pentas seni di Kelurahan Rejowinangun akan digelar di seputaran kantor kementrian Hukum dan HAM, Jl Gedongkuning selatan. Sedangkan pentas seni di Desa Singosaren Kotagede akan digelar di Balaidesa Singosaren.

Tidak hanya itu, Festival Budaya Kotagede juga akan diisi dengan dialog budaya dan sarasehan bertema “Merayakan Kebhinekaan dan Dinamika Kotagede” yang akan digelar di pendopo Jogjatorium, Jalan Tegalgendu, Kotagede.

Festival Budaya Kotagede menjadi event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Event ini menampilkan potensi kultural yang ada di kawasan Kotagede. Oleh karena itu, event ini diharapkan tidak hanya sekedar menjadi hiburan yang kemudian akan hilang begitu saja tetapi diharapkan mampu membangun satu kesadaran sejarah untuk menumbuhkan semangat membangun masa depan. (Rum) Sumber : Citra Jogja, senin, 11/09/17).

 

Share this with friends

Baca Juga:close