Style Sampler

Layout Style

Patterns for Boxed Mode

Backgrounds for Boxed Mode

Biennale Jogja XIII : Perjumpaan Perupa Indonesia – Nigeria

Biennale Jogja XIII : Perjumpaan Perupa Indonesia – Nigeria

Teja

Biennale Jogja XIII : Perjumpaan Perupa Indonesia – Nigeria

 Sleman, JOGJA TV | Pameran seni bertaraf internasional Biennale Jogja XIII kembali digelar di Yogyakarta. Sejak pertama digelar pada tahun 1988 hingga tahun ini pameran Biennale Jogja sudah menginjak yang ke 13 kali. Untuk pameran kali ini Biennale Jogja XIII bekerja sama dengan 33 perupa yang 11 orang diantaranya merupakan perupa dari Nigeria. Pameran akan diselenggarakan mulai 1 November-10 Desember 2015 bertempat di Jogja Nasional Museum. Topic ini diangkat dalam Teras Jogja, sabtu (24/10) di Studio Jogja TV.

TEJA 1 241015.mpg_001911200

Direktur Biennale Jogja XIII, Alia Swastika mengatakan Biennale Jogja merupakan peristiwa seni internasional yang mempunyai gagasan ideology kuat tak hanya sekedar pameran seni biasa. Biennale Jogja mempunyai misi ideologis untuk menjadikan Yogyakarta sebagai pusat kesenian dunia. Dinamika seni kontemporer tidak hanya ada di Amerika dan Eropa namun kawasan ekuator dan Asia Tenggara seperti India, arab, Afrika dan Indonesia juga menjadi pemain penting dalam dunia seni. Bahkan Biennale Jogja akan bekerjasama dengan Negara-negara di kawasan ekuator hingga tahun 2022 mendatang.

TEJA 1 241015.mpg_001387160

Untuk pameran kali ini Biennale Jogja mengambil tema “Hacking Conflict” atau meretas perbedaan. Kurator Biennale Jogja XIII, Wok The Rock mengatakan kekacauan dan konflik selalu ada dalam praktik demokrasi. Dan ini terjadi di Indonesia dan Nigeria. Sejak jatuhnya rezim militer tahun 1998 baik Indonesia maupun Nigeria sama-sama melakukan praktik demokrasi seideal mungkin namun yang terjadi adalah eksperimen terhadap demokrasi. Konflik yang selalu ada dalam demokrasi ini oleh para seniman kemudian dijadikan sumber daya dan diolah untuk membuat tatanan baru yang tidak terduga hasilnya.

TEJA 1 241015.mpg_001471960

Dalam pameran ini pengunjung tidak hanya bisa melihat karya seni secara pasif namun mereka juga bisa ikut terlibat dalam karya yang diproduksi oleh para seniman. Biennale Jogja bukan hanya milik seniman tapi milik seluruh masyarakat untuk itu keterlibatan masyarakat dalam meramaikan event ini sangat diharapkan. Demikian ungkap curator Biennale Jogja XIII, Wok The Rock. (Rumini)

Tags

Category

Share this with friends

Comments are closed.

Baca Juga:close